Tidak ada ilmu yang bisa merasuk ke tulang sum-sum bila si pembelajar
tidak menyukainya. Bagi yang sedang berusaha mempelajari bahasa asing,
bahkan dua atau tiga sekaligus, kegiatan belajar mesti menjadi aktivitas
menyenangkan.
Master lulusan Universitas Princeton, Tim Ferris,
dalam tesisnya menganjurkan , si pembelajar mesti mengevaluasi pola
belajar untuk mendapat kemajuan signifikan. Menurut Ferris mulailah dengan mendekonstruksinya, memilihnya dengan
bijaksana mana yang diperlukan dan mengabaikan 'semuanya' dan hanya
menggunakan sedikit bagian. Ferris mengingatkan bahwa kemampuan otak manusia terbatas tapi sekaligus
luar biasa. Jadi ia meminta untuk fokus kepada tujuan apa bahasa itu
digunakan nantinya.
Ia menawarkan sistem untuk mendongkrak kecepatan pengembangan belajar bahasa. Sistemnya berdasarkan tiga elemen yang berurutan. Efektivitas, keterkaitan dan efisensi mengacu kepada 'apa' lalu
'mengapa' dan 'bagaimana' mempelajari sebuah bahasa asing. Dalam kalimat
sederhana, apa yang mendasari keputusan anda mempelajari bahasa
tersebut berdasar dengan penggunaan (prioritas) atau keterkaitan
(minat), dan terakhir anda yang menentukan bagaimana mempelajari
material dengan cara paling efektif (proses).
Bila
anda memilih material yang salah, tidak peduli bagaimana anda
mempelajarinya, mempraktikkan kelancaran berbahasa mustahil tanpa
peralatan dan material yang tepat. Dalam belajar Grammar, Ferris menganjurkan seseorang untuk memahami beberapa aturan emas yang jadi intin belajar bahasa yakni sebagai berikut
1. Pastikan anda mengetahui apakah ada struktur gramatika mendasar yang berpotensi menghambat kelancaran berbicara (perhatikan apakah ia bertipe SOP ataukah SPO, begitu pula kasus-kasus dalam kata benda).
2. Apakah ada ejaan yang khusus?
3. Seberapa mirip dengan bahasa yang telah anda mengerti? Apakah kemiripan itu bisa beririsan? (Misal anda sedang berbahasa Jepang atau Jerman, apakah anda bisa menggunakan struktur bahasa tadi menggunakan struktur Inggris dan Jerman tanpa ada kesalahan Fatal?)
4. Bila Anda telah memahami itu coba ukur seberapa sulit untuk memelajarinya, dan berapa lama anda butuh untuk secara fungsi lancar berbahasa?
1. Pastikan anda mengetahui apakah ada struktur gramatika mendasar yang berpotensi menghambat kelancaran berbicara (perhatikan apakah ia bertipe SOP ataukah SPO, begitu pula kasus-kasus dalam kata benda).
2. Apakah ada ejaan yang khusus?
3. Seberapa mirip dengan bahasa yang telah anda mengerti? Apakah kemiripan itu bisa beririsan? (Misal anda sedang berbahasa Jepang atau Jerman, apakah anda bisa menggunakan struktur bahasa tadi menggunakan struktur Inggris dan Jerman tanpa ada kesalahan Fatal?)
4. Bila Anda telah memahami itu coba ukur seberapa sulit untuk memelajarinya, dan berapa lama anda butuh untuk secara fungsi lancar berbahasa?
Bagian menjebak, pastikan Anda pahami setiap kata ganti orang pertama
dalam bahasa asing yang Anda pelajari. Lalu pahami Bahasa Asing tersebut
apakah lazim menggunakan Subjek Predikat Objek (SPO) atau Subjek Objek
Predikat (SOP). Contoh Bahasa Jepang, cenderung dengan susunan "Saya
apel itu makan". Jerman, malah sering meletakkan predikat atau kata
kerja di akhir kalimat. Bila bahasa ibu kita SPO, otak kita butuh
waktu menyesuaikan untuk memahami SOP. Peraturan ini yang mesti
dipahami betul untuk memformat otak kita agar segera cepat mengenali
bahasa berpola SOP.
Tak kalah penting adalah memperhatikan kasus nomina. Bahasa Indonesia tak mengenal kata sandang selain si dan sang, sehingga tak terlalu menyulitkan. Sementara Bahasa Asing, Jerman misal, kata 'sang' tidak sesederhana itu. Dia bisa menjadi 'die', 'das', 'der', 'dem', atau 'den', bergantung pada apakah apel itu sebagai subjek, objek, objek tidak langsung, ataukah objek yang dimiliki orang lain.
Bikin pusing? Ingatlah, cara efektif adalah dengan mengenal inti struktur sebuah bahasa, sebelum terjebak dengan tingkat penulisan rumit. Begitu memahami inti struktur, membedah teks rumit, menurut Ferris, menjadi lebih mudah diimajinasikan.
Tak kalah penting adalah memperhatikan kasus nomina. Bahasa Indonesia tak mengenal kata sandang selain si dan sang, sehingga tak terlalu menyulitkan. Sementara Bahasa Asing, Jerman misal, kata 'sang' tidak sesederhana itu. Dia bisa menjadi 'die', 'das', 'der', 'dem', atau 'den', bergantung pada apakah apel itu sebagai subjek, objek, objek tidak langsung, ataukah objek yang dimiliki orang lain.
Bikin pusing? Ingatlah, cara efektif adalah dengan mengenal inti struktur sebuah bahasa, sebelum terjebak dengan tingkat penulisan rumit. Begitu memahami inti struktur, membedah teks rumit, menurut Ferris, menjadi lebih mudah diimajinasikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar