CHINA - Awan merupakan massa
yang terdiri dari tetesan air atau kristal beku yang berada di atmosfer, di
atas permukaan bumi atau tubuh planet. Gumpalan berwarna putih ini menyimpan
rahasia yang menarik perhatian ilmuwan untuk meneliti dan mempelajarinya.
Ketika lembab, udara
hangat naik ke ketinggian yang lebih dingin. Air terkondensasi (mengembun) ke
dalam "benih" mikroskopis seperti debu, abu atau bakteri. Gabungan
air, "benih" dan udara yang bergerak ke atas akan menghasilkan
pembentukan awan. Bila ada uap air yang intensitasnya melebihi ketimbang tempat
untuk proses kondensasi, kristal es yang telah terbentuk dapat berperan sebagai
bibit. Ketika kristal mengalami pengembunan, maka mereka akan menjadi terlalu
berat dan kemudian air itu akan jatuh sebagai hujan.
Beberapa percobaan
telah dilakukan, dengan menambahkan bibit ke awan yang tipis untuk dapat
menurunkan hujan. Ini dilakukan oleh sejumlah petani China yang menembakkan
roket yang telah diisi dengan iodida perak (silver iodide) ke dalam
awan. Iodida perak ini biasa digunakan untuk kegiatan penyemaian.
Sebuah tim yang dipimpin oleh Stephen Salter dari University of Edinburgh telah
mengusulkan menggunakan 1.500 kapal untuk menyemport air laut ke dalam awan
stratocumulus. Ini bertujuan untuk meningkatkan pelindung awan di planet Bumi.
Awan Cumulonimbus merupakan salah satu jenis awan yang membuat penerbangan Anda
terlambat. Angin pada awan ini begitu intens dan tak terduga, sehingga pilot
tidak akan mengemudikan pesawat menembus awan tersebut. Awan Noctilucent
pertama kali muncul setelah peristiwa letusan gunung Krakatau di 1883. Awan
jenis ini paling sering diamati di musim panas dan hanya dapat disaksikan
ketika matahari berada di bawah cakrawala. Ketinggian awan ini berada di 250
ribu sampai 280 ribu kaki di atas permukaan laut.
(SUMBER: okezone.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar