Kini, hampir setiap orang memiliki handphone, tua-muda, laki-perempuan.
Budaya ber-hanphone ria sudah demikian memasyarakat. Gejala ini, sudah
demikian masifnya sehingga tanpa hanphone seakan-akan orang tak bisa
hidup. Benarkah? Mari dilihat lebih jauh apa sesungguhnya manfaat
mempunyai handphone itu, apa pula ruginya. Setelah itu baru kita
berpikir, bagaimana mengoptimalkan gadget ini agar benar-benar
bermanfaat optimal menunjang aktivitas kita sebagai pengguna.
Menghitung Manfaat
Pertama, handphone sangat membantu kita memperlancar arus komunikasi
dan informasi dengan relasi. Kita dengan mudah bisa dihubungi sahabat,
pelanggan atau stakeholder dengan mudah lewat handphone. Kita pun dapat
menghubungi semua relasi hanya dengan memencet tuts gadget kita yang
sudah siap di tangan. Kemudahan ini membawa dampak sangat positif bagi
akselerasi informasi dan komunikasi yang sangat dibutuhkan di era
global ini.
Kedua, handphone membantu membuat penggunanya
tampil modis, gaul, gaya dan lebih gengsi. Handphone sudah menjadi
lifestyle. Kalau ada handphone di tangan bagi sebagian orang,
teristimewa kaum muda, merasa telah bisa tampil gaul dan keren.
Handphone dengan demikian menjadi assesoris untuk menunjang penampilan
yang penuh gaya.
Ketiga, dengan handphone, si pemilik dapat
menyimak berbagai hiburan. Orang bisa bermain games, menonton video,
browsing di internet dengan handphonenya. Hal ini terutama dimanfaatkan
pada saat waktu luang, misalnya sedang menunggu teman, menanti
kendaraan umum di terminal, menunggu makanan datang saat di warung
makan, dan pada kesempatan lain.
Apakah Mudaratnya?
Di samping ada manfaatnya yang tak bisa dibilang kecil, handphone pun
ada mudarat alias ruginya. Apakah itu?
Pertama, bagi mereka yang sudah
merasa handphone melekat bahkan menjadi bagian dari dirinya, maka
ketergantungannya pada gadget ini menjadi sangat tinggi. Seperti
perokok yang tergantung pada rokok, pemakai handphone pun bisa
tergantung pada pada alat ini. Seakan-akan tanpa gadget itu, ia tak
bisa hidup. Handphone menjadi bukan sekadar alat bantu, tapi sudah
menjadi bagian dari dirinya.
Kedua, sejalan dengan kemelekatan
dengan handphone, penggunaannya bisa jadi tak terkontrol. Niscaya hal
ini berpengaruh pada pengeluaran uang untuk membeli pulsa. Dengan kata
lain, duit untuk membeli pulsa terus-menerus bertambah tanpa disadari.
Orang sangat rela mengeluarkan sebagian uangnya untuk membeli pulsa
daripada menyimpan uangnya di buku tabungan. Setelah dihitung-hing
pengeluaran untuk membeli pulsa setiap orang setiap bulannya ternyata
sudah cukup besar. Itu untuk satu orang. Kalau pengeluaran membeli
pulsa untuk satu keluarga dalam sebulan, bahkan setahun, bisa-bisa
sangat mencengangkan! Lalu, muncul pikiran, kalau saja uang itu
disimpan, tentu sudah banyak jumlahnya.
Manusia di Belakang Alat
Sampai di sini, kita mungkin bertanya, apakah pengeluaran uang yang
kita lakukan selama ini untuk gadget itu berkorelasi positif terhadap
kebermanfaatan yang kita peroleh? Tidakkan uang untuk membeli pulsa
handphone, sebagian ternyata sia-sia karena kita memanfaatkan handphone
untuk lebih banyak untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak perlu.
Jadi, kita harus mengevaluasi pemakaian handphone ini. Sudahkah kita
mengambil manfaat sebesar-besarnya untuk menunjang aktivitas komunikasi
dan informasi yang benar-benar kita butuhkan? Persoalan ini kembali
kepada konsep the man behind the gun. Tergantung kepada manusia di
belakang alat! Kembali kepada kita, bagaimana kita memanfaatkan
kemajuan teknologi gadget ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar